Jumat, 23 Oktober 2009

Sejarah Sekolah

Sejarah Singkat

MAN Lamongan berdiri sejak 1980, bermula dari MAN Bangkalan Madura yang direlokasi ke Lamongan, kemudian berubah menjadi MAN Lamongan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI No. 27 Tahun 1980. Sebelum KMA RI tentang Relokasi tersebut diterbitkan, MAN Bangkalan sebagai embrio MAN Lamongan telah menyelenggarakan proses Kegiatan Belajar Mengajar di Lamongan sejak tahun pelajaran 1979.
Kebijakan relokasi ini diambil sebagai upaya Pemerintah untuk mengurangi / menjembatani ketidakseimbangan jumlah Madrasah Negeri, baik antar jenjang maupun antar lokasi propinsi, sebagai akibat penegerian madrasah swasta, serta alih fungsi beberapa Sekolah Agama Islam Negeri menjadi Madrasah Negeri, sebagai strategi pengembangan madrasah pada tahun 1967-1978. (Lihat Sejarah Perkembangan Madrasah, Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Cet II, Edisi Revisi, Tahun 1999/2000).

Sebelum menempati gedung milik sendiri di jalan Veteran, Madrasah ini pada masa-masa awal perjalanannya masih harus meminjam gedung Sekolah Tehnik Negeri (sekarang SLTPN 4 Lamongan) sebagai tempat penyelenggaraan Kegiatan Proses Belajar Mengajar, tentu saja pelaksanaannya menunggu proses KBM di ST selesai, yakni setelah jam 12.00 WIB. Kemudian seiring dengan semakin meningkatnya jumlah siswa dan terbatasnya lokal belajar yang ada di ST, maka pada tahun kedua disamping di ST, pelaksanaan Kegiatan Proses Belajar Mengajar juga menempati gedung Kantor Departemen Agama Kab. Lamongan di Jl. KHA. Dahlan.
P
Baru pada tahun pelajaran 1984/1985 setelah mendapatkan proyek pembangunan 1 unit gedung dengan 3 lokal belajar, 1 ruang administrasi dan guru serta 1 ruang kepala, proses KBM bisa menempati gedung sendiri diatas areal tanah seluas 3.096 M2, itupun baru 3 kelas, sementara 2 kelas lainnya masih menempati gedung Kandepag Kab. Lamongan, dan baru tahun 1985 secara keseluruhan KBM dapat dilaksanakan di gedung milik sendiri tepatnya di Jl. Veteran .

Sejak direlokasi ke Lamongan tahun 1979 kemudian resmi menjadi MAN Lamongan tahun 1980 sampai dengan tahun 2009 saat Profil ini disusun, Madrasah ini telah mengalami beberapa kali pergantian Kepala. Dimulai dari Drs. Rusjdi (yang saat itu Kasi Pergurais Kandepag Kab. Lamongan) sebagai PLH Kepala Madrasah tahun 1979 – 1980, kemudian digantikan oleh Drs. Suwarno tahun 1980 – 1989, kemudian dilanjutkan Drs. Busiri dari tahun 1989 – 1993, kemudian disusul H. Endro Soeprapto, BA. dari tahun 1993 – 1999, kemudian digantikan oleh Drs. H. Imam Ahmad M.Si. dari tahun 1999 sampai April 2005, diteruskan oleh Drs. H. Abd. Mu’thi, SH, M.Pd. dari April 2005 – Oktober 2008. dan mulai Nopember 2008 tongkat kepemimpinan Madrasah ini dipegang oleh Drs. H. Supandi, M.Pd
Diposkan oleh Indo PTC/PTR/PPC di 01:08
Read rest of entry

Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah ( K3MA) Prop. DIYLakukan Kunjungan Silaturrahim ke MAN Lamongan

Kepala-kepala Madrasah Aliyah, baik negeri maupun swasta yang tergabung dalam Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah (K3MA) Propinsi DIY, Sabtu 23 Mei 2009 mengunjungi MAN Lamonga. Kunjungan ini menurut Drs. H. Jazim, M.Pd.I. -Kepala MAN 1 Yogyakarta- selaku Ketua Rombongan dimaksudkan sebagai kunjungan silaturrahim dalam rangka melihat dari dekat bagaimana upaya MAN Lamongan meningkatkan mutu pendidikan selanjutnya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kepala-kepala MA se DIY untuk pengembangan madrasahnya masing- masing.

Adapun materi kunjungan meliputi kekurikuluman,(struktur program kurikulum, KTSP dan pelaksanaannya, metode pembelajaran,pengembangan kurikulum, pensiasatan pembelajaran mata pelajaran UN, pembekalan keterampilan -life skill-), Sarana prasarana mulai dari pengadaan, perawatan dan optimalisasi pemanfaatannya, serta kehumasan, yakni bagaimana MAN Lamongan menjalin hubungan dengan lembaga pendidikan yang lain baik sesama MA maupun SMA bahkan MTS/SMP serta hubungan kemitraan yang telah dibangun dengan perusahaan/ pengusaha.
Pada kesempatan itu, Drs. H. Supandi, M.Pd. selaku Kepala MAN Lamongan mengaku “malu” menjadi obyek studi banding, karena belum banyak prestasi yang diraih, belum banyak inovasi yang lakukan. Lebih jauh ia mengatakan bahwa memang sebuah lembaga pendidikan kalau kepingin maju, maka harus rajin mengadakan “ jejaring” atau silaturrahin atau studi banding ke lembaga pendidikan yang lain, tidak harus ke madrasah/sekolah yang sudah sangat maju, tapi bisa juga ke madrasah-madrasah/sekolah selevel, sehingga bisa melahirkan inspirasi baru untuk perbaikan ke depan.
Setelah shering pengalaman,dilanjutkan dengan observasi lapangan, melihat dari dekat proses pembelajaran keterampilan
( menjahit dan elektro), praktek Laboratorium IPA (Biologi) serta laboratorium multimedia.
Beberapa peserta yang sempat dimintai pendapatnya perihal studi banding yang dilakukan mengaku apa yang diketahui telah memberikan inspirasi baru.
Setelah selesai melakukan kunjungan rombongan melanjutkan perjalanannya ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Selamat menikmati keindahan panorama wisata Lamongan. (Luth)
Diposkan oleh Indo PTC/PTR/PPC di 01:37
Read rest of entry

Pembangunan Masjid

Masjid bagi lembaga pendidikan memiliki fungsi yang sangat penting, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai wahana pendidikan dalam kegiatan ekstra kurikuler serta pusat pengkajian masalah-masalah social dan keilmuan. Sudah barang tentu fungsi tersebut akan terwujud manakala dikelola dengan menejemen yang bagus dan penyediaan fasilitas yang lebih representative.
Masjid Darussalam MAN Lamongan merupakan bagian dari fasilitas MAN Lamongan. Masjid yang dibangun pada era kepemimpinan Drs. Busiri dengan beaya swadaya wali murid yang telah mengalami perluasan pada saat kepemimpinan Drs. H. Imam Ahmad, M.Si dari 144 m2 menjadi 400 m2 ini kembali diperluas dengan membangun lantai 2 dengan anggaran sebesar Rp. 300.000.000,-, dana dari wali murid, perluasan tahap ke tiga ini dimulai pembangunannya pada pertengahan tahun 2008 pada saat kepemimpinan Drs. H, Abd. Mu'thi, SH. M.Pd. , dan saat ini pembangunannya segera memasuki tahap finishing.
Sebagai penerus estafet kepemimpinan MAN Lamongan, Drs. H. Supandi, M.Pd. bertekad akan meneruskan perluasan masjid ini sesuai dengan harapan para pendahulunya meskipun dana pembangunan sudah minus. Dengan selesainya perluasan ini, diharapkan akan mampu menampung sejumlah kurang lebih 1200 jamaah dari keluarga besar MAN Lamongan sehingga shalat Dhuhur tidak lagi ditunaikan secara bergelombang. Semoga !
Diposkan oleh Indo PTC/PTR/PPC di 01:50
Read rest of entry

Senin, 03 Agustus 2009

SEKBID IX OSIS MAN Lamongan

Sekbid IX OSIS MAN Lamongan sekarang mengadakan kegiatan baru dimana kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal ketrampilan bagi para siswa. Kegiatan kewirausahaan ini dilaksanakan pada hari jum’at setelah pulang sekolah tepatnya jam 14.00 WIB.
Kegiatan kewirausahaan ini meliputi kegiatan ketrampilan sulam menyulam, tata boga dan pembuatan aneka macam minuman. Kegiatan ini tidak hanya menarik minat para siswi tetapi para sisiwa pun juga ikut berperan.
Read rest of entry

Lomba WEB Blog Kali Pertama di Jatim

Dalam rangka memperingati hari jadi Lamongan ke-440 tahun ini melalui kantor pusat data elektronik (KPDE) menggelar lomba web untuk kalangan pelajar. Lomba web untuk kalangan pelajar ini baru kali partama digelar di Lamongan dan Jawa Timur.
Lomba tersebut bertujuan untuk mewadahi kreativitas para pelajar Lamongan untuk membuat web blog yang saat ini diminati. Lomba yang baru kali pertama diadakan oleh pamkab lamongan bekerjasama dengan PT. Telkom Lamongan
Berdasarkan hasil penilaian,kategori SMA,SMK dan MA Juara I diraih oleh Wahyu Eko Saputro dari SMK PGRI 3 Lamongan dengan web blog (http://putra-lamongan.blogspot.com) Juara II Iqbal Hafifi dari MAN Lamongan dengan web blog (http://iqbalmanela.blogspo.com) Juara III Ryan Wira Perdana dari SMKN 1 lamongan dengan web blog (http://www.arenga345.blogspot.com).
Read rest of entry

Pembangunan Masjid

Masjid bagi lembaga pendidikan memiliki fungsi yang sangat penting, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai wahana pendidikan dalam kegiatan ekstra kurikuler serta pusat pengkajian masalah-masalah social dan keilmuan. Sudah barang tentu fungsi tersebut akan terwujud manakala dikelola dengan menejemen yang bagus dan penyediaan fasilitas yang lebih representative.
Masjid Darussalam MAN Lamongan merupakan bagian dari fasilitas MAN Lamongan. Masjid yang dibangun pada era kepemimpinan Drs. Busiri dengan beaya swadaya wali murid yang telah mengalami perluasan pada saat kepemimpinan Drs. H. Imam Ahmad, M.Si dari 144 m2 menjadi 400 m2 ini kembali diperluas dengan membangun lantai 2 dengan anggaran sebesar Rp. 300.000.000,-, dana dari wali murid, perluasan tahap ke tiga ini dimulai pembangunannya pada pertengahan tahun 2008 pada saat kepemimpinan Drs. H, Abd. Mu'thi, SH. M.Pd. , dan saat ini pembangunannya segera memasuki tahap finishing.
Sebagai penerus estafet kepemimpinan MAN Lamongan, Drs. H. Supandi, M.Pd. bertekad akan meneruskan perluasan masjid ini sesuai dengan harapan para pendahulunya meskipun dana pembangunan sudah minus. Dengan selesainya perluasan ini, diharapkan akan mampu menampung sejumlah kurang lebih 1200 jamaah dari keluarga besar MAN Lamongan sehingga shalat Dhuhur tidak lagi ditunaikan secara bergelombang. Semoga !
Read rest of entry

MAN Jember 1 Silaturrahim ke MAN Lamongan

Dalam rangkaian kunjungannya ke MAN 1 Model Bojonegoro, Keluarga besar MAN Jember 1 menyempatkan diri mengunjungi MAN Lamongan. Begitu tiba di kampus MAN Lamongan, rombongan yang diikuti Kepala Madrasah dan staf pimpinan beserta keluarga yang berjumlah 60 orang itu langsung disambut dengan hangat oleh Kepala Madrasah beserta staf pimpinan dan langsung menuju ruang pertemuan. Dalam kunjungan ini, Drs. M. Anwari Sy, MA –Ka MAN Jember 1 selaku ketua rombongan mengatakan bahwa kunjungannya kali ini merupakan kunjungan balasan dari kunjungan yang dilakukan MAN Lamongan pada 1993 yang lalu, yakni dimaksudkan dalam rangka ingin belajar dari siapa saja termasuk MAN Lamongan, selanjutnya sesuatu yang baik akan dibawa pulang dan dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu madrasah.
Dalam sambutannya, Drs. H. Supandi, M.Pd. –Ka MAN Lamongan- menyampaikan bahwa sebenarnya kunjungan kali ini lebih tepat sebagai kunjungan silaturrahin biasa dari pada dikatakan studi banding, karena memang belum bisa dibandingkan, bahkan kalau mau dibandingkan maka perbandingannya sama antara langit dan bumi kerena saking jauhnya, selanjutnya ia mohon didoakan agar seluruh sivitas MAN Lamongan dapat mengemban amanat membawa MAN Lamongan kearah yang lebih maju.
Setelah acara usai, diteruskan ramah tamah dan peninjauan lapangan, kemudian rombongan melanjutkan perjalanannya ke MAN 1 Model Bojonegoro, setelah terlebih dahulu mampir ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Selamat menikmatik keindahan panorama wisata Lamongan (luth).
Read rest of entry

Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah ( K3MA) Prop. DIYLakukan Kunjungan Silaturrahim ke MAN Lamongan

Kepala-kepala Madrasah Aliyah, baik negeri maupun swasta yang tergabung dalam Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah (K3MA) Propinsi DIY, Sabtu 23 Mei 2009 mengunjungi MAN Lamonga. Kunjungan ini menurut Drs. H. Jazim, M.Pd.I. -Kepala MAN 1 Yogyakarta- selaku Ketua Rombongan dimaksudkan sebagai kunjungan silaturrahim dalam rangka melihat dari dekat bagaimana upaya MAN Lamongan meningkatkan mutu pendidikan selanjutnya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kepala-kepala MA se DIY untuk pengembangan madrasahnya masing- masing.

Adapun materi kunjungan meliputi kekurikuluman,(struktur program kurikulum, KTSP dan pelaksanaannya, metode pembelajaran,pengembangan kurikulum, pensiasatan pembelajaran mata pelajaran UN, pembekalan keterampilan -life skill-), Sarana prasarana mulai dari pengadaan, perawatan dan optimalisasi pemanfaatannya, serta kehumasan, yakni bagaimana MAN Lamongan menjalin hubungan dengan lembaga pendidikan yang lain baik sesama MA maupun SMA bahkan MTS/SMP serta hubungan kemitraan yang telah dibangun dengan perusahaan/ pengusaha.
Pada kesempatan itu, Drs. H. Supandi, M.Pd. selaku Kepala MAN Lamongan mengaku “malu” menjadi obyek studi banding, karena belum banyak prestasi yang diraih, belum banyak inovasi yang lakukan. Lebih jauh ia mengatakan bahwa memang sebuah lembaga pendidikan kalau kepingin maju, maka harus rajin mengadakan “ jejaring” atau silaturrahin atau studi banding ke lembaga pendidikan yang lain, tidak harus ke madrasah/sekolah yang sudah sangat maju, tapi bisa juga ke madrasah-madrasah/sekolah selevel, sehingga bisa melahirkan inspirasi baru untuk perbaikan ke depan.
Setelah shering pengalaman,dilanjutkan dengan observasi lapangan, melihat dari dekat proses pembelajaran keterampilan
( menjahit dan elektro), praktek Laboratorium IPA (Biologi) serta laboratorium multimedia.
Beberapa peserta yang sempat dimintai pendapatnya perihal studi banding yang dilakukan mengaku apa yang diketahui telah memberikan inspirasi baru.
Setelah selesai melakukan kunjungan rombongan melanjutkan perjalanannya ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Selamat menikmati keindahan panorama wisata Lamongan. (Luth)
Read rest of entry

MAN Comunity Net

MAN Lamongan pada tahun ini Telah mengembangkan sistem dengan pembelajaran yang berbasis IT dengan menggunakan E-Lerning, dengan adanya tuntutan itu para guru dituntut untuk lebih proaktif dalam bidang TIK, para guru di lingkungan MAN Lamongan 75 % sudah familier dengan yang namanya Laptop / Note Book, untuk menunjang wawasan di bidang TIK para guru juga bisa mengakses internet di sekolah dengan fasilitas area HOSpot-MAN, MAN juga memberikan akses internet murah bagi guru dan civitas MAN Lamongan dengan biaya 50 Rb dapat akses Unlimited UP to 1Mbps yang bisa di akses dari rumah, dengan adanya kemudahan fasilitas-fasilitas yang ada diharapkan MAN kedepan bisa lebih unggul di kabupaten lamongan dalam bidang IT dan satu-satunya sekolah Agama yang memanfaatkan teknologi informasi.
Read rest of entry

SISWA MAN JUARA OLIMPIADE SAINS 2009 KABUPATEN LAMONGAN

Siswa MAN Lamongan menjadi juara di olimpiade sains (OSN) kabupaten lamongan tahun 2009, bidang biologi dan kimia. Olimpiade yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Lamongan pada tanggal 15 April 2009 lalu. Eka Nur Maulidiyah S. sebagai juara 1 bidang KIMIA, Fitriyah Dwi Apriyanti sebagai juara 1 bidang BIOLOGI, sedangkan matematika menempati peringkat kelima atas nama Mohammad Alvien Abror. Juara 1 akan mewakili kabupaten lamongan pada olimpiade sains se jawa timur.
Read rest of entry

SISWA MAN JUARA OLIMPIADE SAINS 2009 KABUPATEN LAMONGAN

Siswa MAN Lamongan menjadi juara di olimpiade sains (OSN) kabupaten lamongan tahun 2009, bidang biologi dan kimia. Olimpiade yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Lamongan pada tanggal 15 April 2009 lalu. Eka Nur Maulidiyah S. sebagai juara 1 bidang KIMIA, Fitriyah Dwi Apriyanti sebagai juara 1 bidang BIOLOGI, sedangkan matematika menempati peringkat kelima atas nama Mohammad Alvien Abror. Juara 1 akan mewakili kabupaten lamongan pada olimpiade sains se jawa timur.
Read rest of entry

Sejarah Sekolah

Sejarah Singkat

MAN Lamongan berdiri sejak 1980, bermula dari MAN Bangkalan Madura yang direlokasi ke Lamongan, kemudian berubah menjadi MAN Lamongan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI No. 27 Tahun 1980. Sebelum KMA RI tentang Relokasi tersebut diterbitkan, MAN Bangkalan sebagai embrio MAN Lamongan telah menyelenggarakan proses Kegiatan Belajar Mengajar di Lamongan sejak tahun pelajaran 1979.
Kebijakan relokasi ini diambil sebagai upaya Pemerintah untuk mengurangi / menjembatani ketidakseimbangan jumlah Madrasah Negeri, baik antar jenjang maupun antar lokasi propinsi, sebagai akibat penegerian madrasah swasta, serta alih fungsi beberapa Sekolah Agama Islam Negeri menjadi Madrasah Negeri, sebagai strategi pengembangan madrasah pada tahun 1967-1978. (Lihat Sejarah Perkembangan Madrasah, Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Cet II, Edisi Revisi, Tahun 1999/2000).

Sebelum menempati gedung milik sendiri di jalan Veteran, Madrasah ini pada masa-masa awal perjalanannya masih harus meminjam gedung Sekolah Tehnik Negeri (sekarang SLTPN 4 Lamongan) sebagai tempat penyelenggaraan Kegiatan Proses Belajar Mengajar, tentu saja pelaksanaannya menunggu proses KBM di ST selesai, yakni setelah jam 12.00 WIB. Kemudian seiring dengan semakin meningkatnya jumlah siswa dan terbatasnya lokal belajar yang ada di ST, maka pada tahun kedua disamping di ST, pelaksanaan Kegiatan Proses Belajar Mengajar juga menempati gedung Kantor Departemen Agama Kab. Lamongan di Jl. KHA. Dahlan.
P
Baru pada tahun pelajaran 1984/1985 setelah mendapatkan proyek pembangunan 1 unit gedung dengan 3 lokal belajar, 1 ruang administrasi dan guru serta 1 ruang kepala, proses KBM bisa menempati gedung sendiri diatas areal tanah seluas 3.096 M2, itupun baru 3 kelas, sementara 2 kelas lainnya masih menempati gedung Kandepag Kab. Lamongan, dan baru tahun 1985 secara keseluruhan KBM dapat dilaksanakan di gedung milik sendiri tepatnya di Jl. Veteran .

Sejak direlokasi ke Lamongan tahun 1979 kemudian resmi menjadi MAN Lamongan tahun 1980 sampai dengan tahun 2009 saat Profil ini disusun, Madrasah ini telah mengalami beberapa kali pergantian Kepala. Dimulai dari Drs. Rusjdi (yang saat itu Kasi Pergurais Kandepag Kab. Lamongan) sebagai PLH Kepala Madrasah tahun 1979 – 1980, kemudian digantikan oleh Drs. Suwarno tahun 1980 – 1989, kemudian dilanjutkan Drs. Busiri dari tahun 1989 – 1993, kemudian disusul H. Endro Soeprapto, BA. dari tahun 1993 – 1999, kemudian digantikan oleh Drs. H. Imam Ahmad M.Si. dari tahun 1999 sampai April 2005, diteruskan oleh Drs. H. Abd. Mu’thi, SH, M.Pd. dari April 2005 – Oktober 2008. dan mulai Nopember 2008 tongkat kepemimpinan Madrasah ini dipegang oleh Drs. H. Supandi, M.Pd
Read rest of entry

Selasa, 28 Juli 2009

VISI dan MISI

Visi

Terwujudnya Generasi Islam yang Unggul dalam Prestasi, Terampil serta Berwawasan Lingkungan

Misi
1. Menumbuhkembangkan sikap, perilaku dan amaliah keagamaan Islam di Madrasah
2. Menumbuhkan semangat belajar ilmu keagamaan Islam
3. Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.
4. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif dan daya saing yang sehat kepada seluruh warga Madrasah baik dalam prestasi akademik maupun non akademik.
5. Mendorong, membantu dan memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan, bakat dan minatnya, sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal dan memiliki daya saing yang tinggi.
6. Mengembangkan life-skill / keterampilan dalam setiap aktivitas pendidikan untuk mengantarkan siswa siap hidup mandiri.
7. Menciptakan lingkungan Madrasah yang sehat, bersih dan indah.
8. Mengembangkan sikap kepekaan terhadap lingkungan
9. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga Madrasah, Komite Madrasah dan stakeholders dalam pengambilan keputusan.
10. Mewujudkan Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Read rest of entry

Sabtu, 25 Juli 2009

Catatan Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Catatan Sejarah Kemerdekaan RI

Posted by suryahasri on August 15, 2008

Berhubung dua (2) hari lagi nih 17-an / Kemerdekaan Indonesia, ada baiknya kita bisa melihat sejarah kemerdekaan yang kita dapatkan sejak 17 Agustus 1945 tsb. Dengan memperingatinya, mudah-mudahan kita dapat lebih nasionalistis kepada negara kita tercinta ini.

Membuka Catatan Sejarah:
Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945
Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum
Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara R.I.

Proklamasi Kemerdekaan, yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus, adalah sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Proklamasi, telah mengubah perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan.

Merdeka dari segala bentuk penjajahan. Bagaimanakah sesungguhnya, peristiwa yang terjadi 61 tahun yang lalu itu. Mari kita buka kembali catatan sejarah sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Perdebatan Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat.

Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang. Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang.

Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang mendorong mereka
melakukan aksi penculikan” terhadap diri Soekarno-Hatta (lihat Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81)Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi (1984:58); Ahmad Soebardjo (1978:85-87) sebagai berikut:

” Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”

Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: ” Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu ?”

Namun, para pemuda terus mendesak; ” apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. ” Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memproklamasikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyatakan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa ?”. Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bias kau perlihatkan kepada saya ? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “. Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.

Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.

Rengasdengklok kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.

Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta . Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri. Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; ” Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. ” Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.

Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 “. ” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. ” Saya seorang yang percaya pada mistik;. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).

Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambatlambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:82-83).Merumuskan Teks Proklamasi

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo (1978:60-61) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.

Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu diBatavia; kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo. Melalui kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak sedikit baginya, ia mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia . Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu.

Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya. Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco (kepala pemerintahan umum), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah menyatakan menyerah kepada Sekutu, maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo .

Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis kebijakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde kaan. Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicarakan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya berharap agar pihak Jepang tidak menghalang-halangi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri (Hatta, 1970:54-55).

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi.

Sedangkan tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun dari golongan pemuda, menunggu di serambi muka. Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam, rumusan teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan konsep proklamasi pada secarik kertas.

Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.

Setelah kelompok yang menyendiri di ruang makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, yang telah disiapkan sebelumnya oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah.

Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya bercampur dengan beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri di samping saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945 pada saat Soekarno membuka pertemuan dini hari itu dengan beberapa patah kata.

“Keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing”. Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad Hatta dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence ” Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang tidak setuju kalau tokoh-tokoh golongan tua yang disebutnya “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu diterima oleh hadirin.

Naskah yang sudah diketik oleh Sajuti Melik, segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan timbul mengenai bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan kepada rakyat di seluruh Indonesia , dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondongbondong ke lapangan IKADA pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi Soekarno menolak saran Sukarni. ” Tidak ,” kata Soekarno, ” lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancingmancing insiden ? Lapangan IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham.

Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.Detik-Detik Proklamasi
Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.

Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi, mulai tidak sabar lagi.

Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Marwati Djoened Poesponegoro (1984:92-94) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.

“Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri.

Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu.
Dengarkanlah Proklamasi kami:

PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu”. (Koesnodiprojo, 1951).

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: ” lebih baik seorang prajurit ,” katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.

Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan barisan pelopor yang berjumlah kurang lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu Bung Karno tidak sampai hati, ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya.

Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno. Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan menunggu di ruang belakang, tanpa diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya.

Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga terpaksa berpakaian lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: ” Kami diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi .” ” Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Bung Karno dengan tenang. ” Sudahkah ?” tanya utusan Jepang itu keheranan. ” Ya, sudah !” jawab Bung Karno. Di sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya.

Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan sebagian foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.

Penutup Peristiwa besar bersejarah yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung hanya satu jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan yang luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia Gema lonceng kemerdekaan terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Para pemuda, mahasiswa, serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.

Dirgahayu Indonesiaku!

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Soebardjo (1978). Lahirnya Republik Indonesia . Jakarta : Kinta.
Koesnodiprodjo (1951). Himpunan Undang-Undang, Peraturan-Peraturan, Penetapan-Penetapan Pemerintah Republik
Indonesia 1945. Jakarta .
Lasmidjah Hardi (1984). Samudera Merah Putih 19 September 1945 . Jilid 1. Jakarta : Pustaka Jaya.
Marwati Djoened Poesponegoro et. al. (1984). Sejarah Nasional Indonesia . Jilid 6. Jakarta : Balai Pustaka.
Mohammad Hatta (1970). Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 . Jakarta : Tinta Mas.
Nugroho Notosusanto (1976). Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik. Jakarta : Pusat
Sejarah ABRI.
Soekarno (1963 ). Sarinah; Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Jakarta : Panitia Penerbit Buku-
Buku Karangan Presiden Soekarno.

Read rest of entry
 

About Me

Foto saya
hai guys,,!! saya Machfud Zunaidi, byasa d panggil Machfud saja, gue orangnya sante, asyik d ajak ngbrOl n seneng bergaul,, Oce" ^_^,, orangnya gak muluk" og.. tp agak pendiem and penyendiri,,hahaha

My Blog List

Term of Use